Rabu, 21 April 2010

Kartini di mata Kartono

Sepertinya terlalu berat jika tulisan ini dibuat untuk sebuah Study Gender. Tulisan ini hanyalah Point of View Kartono selama dia mengenal siapa itu Kartini.
Kartini. Ya, mendengar namanya saja sudah dipastikan, bahwa pemilik nama itu adalah seorang kaum Hawa. Sebuah mahluk yang selalu dipuja-puja oleh Kartono.
Entah kenapa Kartono begitu sangat memuja Kartini? Bahkan, Kartono mengoleksi banyak nama Kartini di Indonesia ini termasuk ibu yang mengandungnya, adalah salah satu pemilik dari sekian banyak nama Kartini. Hmm... Seperti apa Kartini?

Di sebuah rumah...
Wajahnya tampak tua termakan usia. Setiap kerutan di wajahnya memberi arti bahwa hidup baginya untuk memberi. Memberi sepenuh hati tanpa berharap ada yang harus kembali. Memberi segenap raga untuk keluarganya walau sebenarnya sudah tidak berdaya. Selepas adzan Shubuh tiba, seluruh organ tubuhnya terus bekerja tanpa henti sambil sesekali mengelap keringat yang menetes dari wajahnya. Setelah malam menjelang, ia duduk menyandarkan tubuhnya di sebuah kursi sambil tersenyum bahagia melihat keluarganya, ia pun berkata lirih "Ya Allah kuatkanlah hatiku, mudahkanlah jalanku, limpahkanlah rakhmatMu ya Allah, sesungguhnya aku ikhlas melalui semua karenaMu Ya Allah, berikan yang terbaik untukku, anak-anakku dan juga suamiku, sesungguhnya aku berserah kepadaMu ya Allah.
.". Tak lama berselang, masih tersandar di kursi itu ia pun tertidur lelah. Aku pun melirih "Ya Allah lindungi dan berilah selalu kekuatan untuk ibuku itu".

Di sebuah gedung bertingkat...
Begitu banyak orang berlalu-lalang seakan mengejar sesuatu. Terlihat seorang perempuan. Ia berwibawa dan tampak terpelajar, di dalam sebuah ruangan di gedung yang menjulang tinggi itu. Berkali-kali ia mengerutkan keningnya, berstimulasi dengan otaknya mencari solusi, mencari alternatif, menuntaskan masalah, memecah keheningan dan terus menerus berpikir.Hari ini akan banyak agenda pertemuan penting yang akan dibahas bersama, setelah itu ia akan menandatangani sejumlah berkas dan bertemu dengan beberapa pejabat penting di negeri ini. Ia akan sibuk sekali, selain menerima beberapa sms dan telpon penting, ia juga harus menghubungi suaminya, dan anak-anaknya sekedar untuk megingatkan untuk tidak lupa makan siang.


Di sebuah stasiun...
Seorang perempuan yang nampak lebih tua dari usia sebenarnya, harus menahan peluh dengan keringat yang membasahi sekujur tubuh, bajunya kumal, dan sudah mulai basah oleh keringat. Siang ini matahari memancarkan panasnya lebih panas dari hari kemarin, dengan bermodalkan sebuah sapu, perempuan ini harus menunggu stasiun sepi lalu kemudian mulai bekerja membersihkan gerbong demi gerbong kereta di stasiun ini. Ia harus bekerja lebih cepat dan berharap pulang sebelum matahari terbenam, ia harus segera berada dirumah sebelum suaminya pulang memulung, ia harus pulang lebih awal untuk menanak nasi untuk dimakan malam ini.

Itulah beberapa Kartini yang pernah dikenal dan diberi penghargaan di hati Kartono karena perjuangan hidupnya yang begitu besar. Tidak peduli perannya apalagi bentuknya, tapi apa yang didedikasikannya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar