Kamis, 29 Juli 2010

We Are Tebet Lalieur Family



















Sepertinya ini adalah entry paling spesial di Blog saya. Lihat saja foto-foto yang saya pajang, paling banyak di antara entry-entry yang lainnya. Kenapa begitu, ya?! Hmmm... Sudah saatnya saya bercerita tentang keluarga ini.
Beginilah cerita singkatnya;

Tebet Barat Dalam 1G No.3. Di rumah inilah kami hidup bersama layaknya sebuah keluarga dengan segala kerumitan, kebingungan, kerusuhan tapi selalu penuh dengan kesenangan dan kebersamaan. Bagaimana tidak senang, bayangkan saja, hampir setiap hari hidup kami bebas dari aturan-aturan dan norma-norma yang berlaku di setiap keluarga pada umumnya. Tidak ada peran orang tua, yang ada hanya manusia-manusia menuju umur yang tua dengan perilaku yang tampak selalu ingin muda. Begitulah kami, yang menyebutnya Tebet Lalieur Crew (TLC).
Rumah pengamat ekonomi politik Ikhsanudin Noersy yang telah kami tempati kurang lebih sekitar 5 tahun ini, memang telah dihuni dari generasi ke generasi yang kebanyakan adalah para pemuda asal Bandung yang mengejar rejeki di Ibukota. Mereka semua datang dan susah senang bersama lalu kemudian pergi untuk menjalankan misi hidup lainnya, yaitu menikah dan tinggal bersama dengan para gadis pujaannya. Seperti itulah budayanya.
Hmm.. Apalagi ya yang harus saya tulis?! Terlalu banyak cerita bersama mereka di rumah ini. Bagi saya, memiliki kesempatan hidup bersama dengan orang-orang ini selama bertahun-tahun sungguh menyenangkan, tapi di lain waktu kadang sangat mengesalkan, mungkin begitupun mereka menilai saya. Perilaku ataupun watak mereka, kurang lebih saya mengenalnya. Dan tanpa mengurangi rasa kekeluargaan, ini dan beginilah keluarga Tebet Lalieur Crew;

# Rifky
Nah, ini dia orang yang paling bertanggungjawab atas semua peledakan bom di Indonesia, hehe.. (becanda, ki). Maksudnya, dialah orang yang paling bertanggungjawab atas rumah yang kita tinggali sekarang.
Pria Arab asal Bali yang senang mengkoleksi action figure ini bisa dibilang sedikit pemalas untuk membersihkan rumah, dia lebih senang memperhatikan kita semua ketika
sedang kerja merapihkan rumah. Hmm... mungkin saya pikir tanggung jawab dia sudah cukup besar di sini. Bayangkan saja, selain mempunyai peran sentral atas keaadaan rumah, diapun harus mengurus biaya listrik, air, keamanan dan sampah setiap bulannya. Coba, gimana jadinya kalau tidak ada peran seorang habib Rifky?!
Sekarang, pemuda yang bekerja jadi Account Executive di Roundtable Advertising dan kadang suka nyambi jadi DJ ini, akan segera melepaskan masa lajangnya. Akhirnya, dia menemukan pasangan hidupnya setelah selama ini kita semua mengira jika dia adalah seorang penyuka sesama jenis
alias homo, ahahaha.... (becanda lagi, ki). Goodluck, habib! Doa kami menyertaimu :)

# Dido
Mamang Dido, seperti itulah sapaan akrab kami buat dia. Mungkin karena umurnya yang lebih tua di antara kami dan sudah mempunyai 1 anak, hingga akhirnya kami memberi gelar mamang di depan namanya :)
Dido adalah salah satu skinhead sejati dengan sekelumit ideologi. Sudah sejak masih jaman kuliah di Fikom Unpad, saya sudah mengenalnya. Parasnya yang sedikit mirip Hedi Yunus dan Adjie Masaid ini memang begitu akrab dengan dunia musik indie di Bandung. Sudah hampir 5 tahun lalu, saya dan dido sudah tinggal bersama di Jakarta sampai sekarang. Jadi, kalau boleh sok tahu, saya lumayan mengenal seperti apa kepribadian pencinta Morrissey dan vokalis band OI Real Enemy, ini. Terlebih, saya teman satu kamarnya sejak dulu.
Rusuh, kekerasan, sudah mengalir dalam darahnya.
Sepertinya, tidak ada satu orangpun yang bisa menghentikan jiwanya itu selain daripada istri dan anaknya di Bandung yang sudah bertahun-tahun dia korbankan untuk tidak bersama dalam kesehariannya karena harus bekerja di Jakarta dan hanya bisa bertemu ketika akhir pekan tiba.
Sebotol "armada" atau anggur merah bersoda (begitu kami m
enyebutnya) dan DVD menurut saya sudah menjadi bagian dari hidupnya. Bayangkan saja, dalam semalam, "armada" itu bisa dia tegak sendirian sampai tak ada ampun lagi sambil asik menonton DVD dengan volume TV yang kencang. "Haduh, dido, dido...". Sebenernya saya membenci situasi seperti itu, tapi itulah seorang Dido yang saya kenal dengan sekelumit permasalahan hidupnya yang tidak pernah dia bagi. Aylopyu cyiiinnnn...

# Upie

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar