Senin, 12 Juli 2010

Vaarwel world cup Suid-Afrika

Selesai sudah, sebuah perhalatan terakbar di dunia itu. Kurang lebih sebanyak 65 pertandingan telah terselenggara dengan baik di Afrika Selatan. Kini, tidak ada lagi secangkir teh atau kopi panas dan sebungkus rokok beserta segala pernak-pernik penghibur rasa lapar menemani saya begadang higga dini hari. Game is over and then back to normal life.
Sebenarnya, euforia pesta sepakbola terbesar di dunia ini masih sangat kental terasa di ubun-ubun kepala hingga sekarang. Saya masih senang membicarakan setiap pertandingannya bersama teman-teman, saya sangat menikmati suasananya walaupun tidak secara langsung berada di sana. [Semoga suatu saat saya akan berkesempatan menyaksikannya secara langsung :)]
Lebih dari 150 gol tercipta di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Beberapa tim unggulan akhirnya harus menerima kenyataan bahwa sepakbola selalu penuh dengan kejutan. Bahkan, sang tuan rumah harus terlebih dahulu duduk santai menjadi penonton setia pertandingan setelahnya.
Yah, begitulah sepakbola. Esensinya sepakbola itu bukan masalah ketenaran atau kehebatan seorang pemainnya, filosofi permainannya yang fragmatis atau menganut paham keindahan, tapi melainkan sepakbola itu berbicara masalah keseimbangan, keseimbangan lini pertahanan, tengah dan penyerangan. Itulah yang telah Spanyol lakukan di Afrika Selatan hingga akhirnya menjadi pemegang trophy Piala Dunia 2010.
Tidak mudah memang menerjemahkan konsep keseimbangan itu di lapangan hijau, karena setiap pemain memiliki mental bertanding yang berbeda. Sepakbola adalah drama, terdiri dari banyak potongan kisah dan fragmen yang diperankan para aktornya di dalam maupun di luar lapangan rumput: konflik, kepentingan, egoisme, kepahlawanan, jiwa besar, optimisme, suka-duka, rasa bersalah, dan fanatisme.
Afrika Selatan melahirkan banyak kisah haru-biru terkait soal gol sebagai tujuan sepakbola ini: selain tim-tim unggulan yang tersingkir dini, bintang-bintang baru yang sebelumnya tak diperhitungkan bermunculan, para calon top skorer yang ternyata tak mencetak satu gol pun, juga Jabulani si kulit bundar produk Adidas dan yang tak kalah menarik, hadirnya selebritis baru yang cukup menggemparkan: Paul si Gurita dari akuarium Sea Life di Oberhausen, Jerman! selain dari banyaknya keputusan-keputusan sang hakim pertandingan yang begitu kontroversial. Ah, saya pikir kontroversi merupakan bagian dari sepakbola. Tidak ada kesempurnaan dalam sepakbola, jika sepakbola bisa dikontrol oleh teknologi dan sains, maka tidak akan pernah ada kesalahan yang bisa dipelajari.
Seperti yang pernah Jean Paul Sartre ucapkan "In football everything is complicated by the presence of the opposite team".



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar