Sabtu, 11 September 2010

Maaf.

4 huruf, 1 titik
Permintaan maaf walau cuma diketik.


Selamat Lebaran 1431 H

Selasa, 10 Agustus 2010

Rumahku Istanaku

Sehari sebelum melaksanakan ibadah puasa, tiba-tiba saja saya ingin mencurahkan alam sadar saya.

Terkadang, sebenarnya bukan terkadang, tapi selalu, saya selalu heran ketika suatu rencana yang dibuat manusia bisa hancur begitu saja oleh makhluk bernama ‘takdir’. Saya pernah mendengar sebuah pernyataan dari seorang dosen teman saya, berbunyi ‘semua yang terjadi pada kita 80% adalah akibat perbuatan kita, 18% kondisi, dan 2% sisanya adalah takdir’. Jika dikaji lebih dalam, persentase tadi sebenarnya seimbang karena masing-masing pengaruh materi sesuai dengan kekuatannya. Biasanya kita baru memperhatikan komposisi ini ketika keadaan gak sesuai dengan yang kita inginkan. Dan ‘takdir’, sebagai persentase terkecil selalu menjadi kambing hitam paling empuk, jika kita udah gak bisa lagi menyalahkan kondisi dan perbuatan kita sebagai persentase yang lebih besar.

“Nila setitik, rusak susu sebelanga,” peribahasa yang bisa saya ambil untuk masalah ini. Keburukan selalu lebih kuat dari kebaikan. Namun kebaikan selalu jadi pemenangnya, bukan?

Takdir, dengan persentase yang begitu rendah, bisa menjadi faktor kuat pengubah kejadian. Kita pasti menyadari itu ketika keadaan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Bagaimana mungkin hanya dengan sedikit sentuhan takdir, rencana yang hampir sempurna sekali pun bisa porak-poranda? Itulah kenapa saya bilang takdir itu kuat. Dengan pengaruhnya yang begitu besar, lalu, apakah kita bisa bilang takdir jahat? Jika tidak, mengapa pengaruhnya begitu besar seperti nila pada susu? Jika ya, bukankah seharusnya kebaikan yang jadi pemenangnya? Istilah ‘takdir’ diciptakan hanya agar manusia bisa menerima apa yang gak bisa dikehendakinya. Tepatnya, agar manusia punya sesuatu untuk disalahkan pada akhirnya jika kehendaknya tidak terlaksana.

Takdir, juga yang mempertemukan kita, menghubungkan getaran-getaran yang pada awalnya tidak bisa dideskripsikan, getaran yang seolah berkata ‘aku butuh kamu’. Hingga kita merumuskan rasa itu menjadi sebuah kebutuhan. Rasa butuh yang biasa orang sebut ‘sayang’. Pernah kita mengklaim diri kita tidak akan berarti tanpa orang yang memenuhi kebutuhan kita. Namun pada akhirnya, kita membutuhkan orang yang paling membutuhkan kita.

Sepasang kekasih tidak mungkin lagi bisa bersama jika di antara mereka udah tidak lagi saling membutuhkan. Memang terkesan “memanfaatkan”, tapi itu memang sifat dasar manusia, ingin kebutuhannya dipenuhi, yang ujung-ujungnya agar merasa bahagia.

Seseorang yang membutuhkan kita bukanlah orang yang memanfaatkan kita, karena memanfaatkan berarti mengambil keuntungan dari seseorang yang sebenarnya tidak terlalu kita butuhkan. Ketika menemui seseorang yang membutuhkan kita, secara langsung atau tidak langsung, kita akan membutuhkan mereka juga. Karena tidak ada artinya kelebihan kalau tidak ada tempat untuk menuangkannya.

Menemukan seseorang yang kita butuhkan itu seperti menemukan rumah yang selama ini kita cari saat kita tersesat. Karena rumah adalah tempat yang paling kita butuhkan. Kita selalu merasa aman, nyaman, tenang ketika berada di rumah. ‘Rumahku istanaku’ terbukti bukan ungkapan omong kosong.

Pada akhirnya, kita membutuhkan orang yang ketika kita menatapnya, kita merasa seperti di rumah.

Everytime I look at you, I’m home :)

Dan itu bukan karena perbuatan saya, kondisi, ataupun takdir, melainkan ketiganya.

Sabtu, 31 Juli 2010

Terimakasih, July!

Tidak lagi di sini...
July telah membawa jauh pergi menantang nyali...
Tapi tempat itu masih jadi misteri...
Ke mana dia bersembunyi?

Terimakasih, July...

Kamis, 29 Juli 2010

We Are Tebet Lalieur Family



















Sepertinya ini adalah entry paling spesial di Blog saya. Lihat saja foto-foto yang saya pajang, paling banyak di antara entry-entry yang lainnya. Kenapa begitu, ya?! Hmmm... Sudah saatnya saya bercerita tentang keluarga ini.
Beginilah cerita singkatnya;

Tebet Barat Dalam 1G No.3. Di rumah inilah kami hidup bersama layaknya sebuah keluarga dengan segala kerumitan, kebingungan, kerusuhan tapi selalu penuh dengan kesenangan dan kebersamaan. Bagaimana tidak senang, bayangkan saja, hampir setiap hari hidup kami bebas dari aturan-aturan dan norma-norma yang berlaku di setiap keluarga pada umumnya. Tidak ada peran orang tua, yang ada hanya manusia-manusia menuju umur yang tua dengan perilaku yang tampak selalu ingin muda. Begitulah kami, yang menyebutnya Tebet Lalieur Crew (TLC).
Rumah pengamat ekonomi politik Ikhsanudin Noersy yang telah kami tempati kurang lebih sekitar 5 tahun ini, memang telah dihuni dari generasi ke generasi yang kebanyakan adalah para pemuda asal Bandung yang mengejar rejeki di Ibukota. Mereka semua datang dan susah senang bersama lalu kemudian pergi untuk menjalankan misi hidup lainnya, yaitu menikah dan tinggal bersama dengan para gadis pujaannya. Seperti itulah budayanya.
Hmm.. Apalagi ya yang harus saya tulis?! Terlalu banyak cerita bersama mereka di rumah ini. Bagi saya, memiliki kesempatan hidup bersama dengan orang-orang ini selama bertahun-tahun sungguh menyenangkan, tapi di lain waktu kadang sangat mengesalkan, mungkin begitupun mereka menilai saya. Perilaku ataupun watak mereka, kurang lebih saya mengenalnya. Dan tanpa mengurangi rasa kekeluargaan, ini dan beginilah keluarga Tebet Lalieur Crew;

# Rifky
Nah, ini dia orang yang paling bertanggungjawab atas semua peledakan bom di Indonesia, hehe.. (becanda, ki). Maksudnya, dialah orang yang paling bertanggungjawab atas rumah yang kita tinggali sekarang.
Pria Arab asal Bali yang senang mengkoleksi action figure ini bisa dibilang sedikit pemalas untuk membersihkan rumah, dia lebih senang memperhatikan kita semua ketika
sedang kerja merapihkan rumah. Hmm... mungkin saya pikir tanggung jawab dia sudah cukup besar di sini. Bayangkan saja, selain mempunyai peran sentral atas keaadaan rumah, diapun harus mengurus biaya listrik, air, keamanan dan sampah setiap bulannya. Coba, gimana jadinya kalau tidak ada peran seorang habib Rifky?!
Sekarang, pemuda yang bekerja jadi Account Executive di Roundtable Advertising dan kadang suka nyambi jadi DJ ini, akan segera melepaskan masa lajangnya. Akhirnya, dia menemukan pasangan hidupnya setelah selama ini kita semua mengira jika dia adalah seorang penyuka sesama jenis
alias homo, ahahaha.... (becanda lagi, ki). Goodluck, habib! Doa kami menyertaimu :)

# Dido
Mamang Dido, seperti itulah sapaan akrab kami buat dia. Mungkin karena umurnya yang lebih tua di antara kami dan sudah mempunyai 1 anak, hingga akhirnya kami memberi gelar mamang di depan namanya :)
Dido adalah salah satu skinhead sejati dengan sekelumit ideologi. Sudah sejak masih jaman kuliah di Fikom Unpad, saya sudah mengenalnya. Parasnya yang sedikit mirip Hedi Yunus dan Adjie Masaid ini memang begitu akrab dengan dunia musik indie di Bandung. Sudah hampir 5 tahun lalu, saya dan dido sudah tinggal bersama di Jakarta sampai sekarang. Jadi, kalau boleh sok tahu, saya lumayan mengenal seperti apa kepribadian pencinta Morrissey dan vokalis band OI Real Enemy, ini. Terlebih, saya teman satu kamarnya sejak dulu.
Rusuh, kekerasan, sudah mengalir dalam darahnya.
Sepertinya, tidak ada satu orangpun yang bisa menghentikan jiwanya itu selain daripada istri dan anaknya di Bandung yang sudah bertahun-tahun dia korbankan untuk tidak bersama dalam kesehariannya karena harus bekerja di Jakarta dan hanya bisa bertemu ketika akhir pekan tiba.
Sebotol "armada" atau anggur merah bersoda (begitu kami m
enyebutnya) dan DVD menurut saya sudah menjadi bagian dari hidupnya. Bayangkan saja, dalam semalam, "armada" itu bisa dia tegak sendirian sampai tak ada ampun lagi sambil asik menonton DVD dengan volume TV yang kencang. "Haduh, dido, dido...". Sebenernya saya membenci situasi seperti itu, tapi itulah seorang Dido yang saya kenal dengan sekelumit permasalahan hidupnya yang tidak pernah dia bagi. Aylopyu cyiiinnnn...

# Upie

Senin, 12 Juli 2010

Vaarwel world cup Suid-Afrika

Selesai sudah, sebuah perhalatan terakbar di dunia itu. Kurang lebih sebanyak 65 pertandingan telah terselenggara dengan baik di Afrika Selatan. Kini, tidak ada lagi secangkir teh atau kopi panas dan sebungkus rokok beserta segala pernak-pernik penghibur rasa lapar menemani saya begadang higga dini hari. Game is over and then back to normal life.
Sebenarnya, euforia pesta sepakbola terbesar di dunia ini masih sangat kental terasa di ubun-ubun kepala hingga sekarang. Saya masih senang membicarakan setiap pertandingannya bersama teman-teman, saya sangat menikmati suasananya walaupun tidak secara langsung berada di sana. [Semoga suatu saat saya akan berkesempatan menyaksikannya secara langsung :)]
Lebih dari 150 gol tercipta di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Beberapa tim unggulan akhirnya harus menerima kenyataan bahwa sepakbola selalu penuh dengan kejutan. Bahkan, sang tuan rumah harus terlebih dahulu duduk santai menjadi penonton setia pertandingan setelahnya.
Yah, begitulah sepakbola. Esensinya sepakbola itu bukan masalah ketenaran atau kehebatan seorang pemainnya, filosofi permainannya yang fragmatis atau menganut paham keindahan, tapi melainkan sepakbola itu berbicara masalah keseimbangan, keseimbangan lini pertahanan, tengah dan penyerangan. Itulah yang telah Spanyol lakukan di Afrika Selatan hingga akhirnya menjadi pemegang trophy Piala Dunia 2010.
Tidak mudah memang menerjemahkan konsep keseimbangan itu di lapangan hijau, karena setiap pemain memiliki mental bertanding yang berbeda. Sepakbola adalah drama, terdiri dari banyak potongan kisah dan fragmen yang diperankan para aktornya di dalam maupun di luar lapangan rumput: konflik, kepentingan, egoisme, kepahlawanan, jiwa besar, optimisme, suka-duka, rasa bersalah, dan fanatisme.
Afrika Selatan melahirkan banyak kisah haru-biru terkait soal gol sebagai tujuan sepakbola ini: selain tim-tim unggulan yang tersingkir dini, bintang-bintang baru yang sebelumnya tak diperhitungkan bermunculan, para calon top skorer yang ternyata tak mencetak satu gol pun, juga Jabulani si kulit bundar produk Adidas dan yang tak kalah menarik, hadirnya selebritis baru yang cukup menggemparkan: Paul si Gurita dari akuarium Sea Life di Oberhausen, Jerman! selain dari banyaknya keputusan-keputusan sang hakim pertandingan yang begitu kontroversial. Ah, saya pikir kontroversi merupakan bagian dari sepakbola. Tidak ada kesempurnaan dalam sepakbola, jika sepakbola bisa dikontrol oleh teknologi dan sains, maka tidak akan pernah ada kesalahan yang bisa dipelajari.
Seperti yang pernah Jean Paul Sartre ucapkan "In football everything is complicated by the presence of the opposite team".